Tag : kebebasan-berekspresi

Pelajaran Berharga Florence : Hargai Orang Lain dalam Ruang Siber

“Pelajaran paling penting (kasus penghinaan Warga Jogjakarta di Path) adalah cuma satu dan itu paling berkesan dalam diri saya, yakni hargai orang lain,”, Demikian ucapan Florence yang dilansir oleh Kompas.

Sebagaimana Penulis sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa kultur atau budaya Indonesia menghargai orang lain. Hal inilah yang mendorong masyarakat membentuk etika yang sesuai dengan nilai dan budaya bangsa.

Apakah ruang siber atau yang lebih populer dikenal dengan Internet adalah ruang virtual yang borderless? Pada awal perkembangannya, Penulis setuju, akan tetapi untuk saat ini dan ke depan, Penulis ragu akan klaim tersebut, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Tiap negara berusaha untuk menegaskan batas-batas yurisdiksinya dalam dunia siber. Kondisi yang “borderless” tidak membuat satu bangsa berdiam diri dan membiarkan kejahatan atau perbuatan yang merugikan warga negara, keamanan, dan kepentingan bangsa dan negara nya dapat dilakukan begitu saja tanpa ada penegakan hukum dan penegakan kedaulatan.

Apa hubungan membahas ucapan Florence dengan kedaulatan negara?

Yang jelas, dalam ruang siber, setiap orang yang menggunakan media jejaring sosial terhubung dengan orang lain. Siapa pengirim dan siapa penerima menjadi unsur penting dalam suatu komunikasi. Apabila pengirim adalah WNI dan demikian juga penerima, maka hubungan komunikasi mereka semakin jelas tunduk pada peraturan perundang-undangan Indonesia. Tidak saja pada peraturan perundang-undangan, tetapi juga budaya dan etika komunikasi Indonesia.

Kasus yang menimpa Florence dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua orang, bahwa dalam berkomunikasi kita harus menghargai orang lain. Oleh karena itu, setiap ucapan kita yang merupakan hasil pemikiran dan emosi yang tertuang dalam 0 dan 1, harus kita jaga.

Sri Sultan kembali meneguhkan karakter mulia dan sikap kenegarawanannya. Beliau bersedia memfasilitasi perdamaian antara Florence dengan Warga Jogjakarta. Tidak hanya itu saja, beliau juga memaafkan Florence dan bahkan menghimbau warganya untuk memaafkan Florence dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyelesaikan studinya di Jogjakarta. Demikian yang dilansir Kompas.

Indonesia punya keunikan tersendiri. Semoga dari kasus ini etika komunikasi dalam ruang siber akan dikembangkan, baik oleh komunitas atau akademisi.